The Christus statueThe Church of Jesus Christ of Latter-day Saints Search | Feedback | Site Map | Help | Country Sites |
Home Broadcast Archives CES Fireside

Tulisan Suci: Lebih Indah daripada Emas; Juga Lebih Manis daripada Madu

Sister Susan W. Tanner
Presiden Umum Remaja Putri
Api Unggun CES untuk Remaja Dewasa • 11 September 2005 • Universitas Brigham Young

Sister Susan W. TannerTerima kasih untuk paduan suara yang hebat ini. Musik yang indah, dan itu mengundang Roh. Saya juga menghargai doa pembukanya. Saya terutama melihat bahwa doa itu memohon agar kita masing-masing akan merasakan Roh malam ini dan agar kita akan dapat diilhami dalam cara yang sungguh-sungguh kita perlukan. Itulah sesungguhnya doa saya. Saya sangat bersyukur untuk kesempatan dapat berada bersama Anda malam ini. Namun seandainya saya dapat berharap, saya ingin agar kebaktian ini dapat menjadi api unggun kuno yang sesungguhnya dimana saya dapat mengajak Anda duduk di dekat perapian dan kita dapat bercakap-cakap secara pribadi—sama seperti yang akan saya lakukan seandainya Anda adalah anak-anak saya sendiri yang seusia Anda. Barangkali saya akan mulai dengan menceritakan kepada Anda tentang putri saya yang menjadi misionaris. (Bukankah itu yang dilakukan oleh kebanyakan ibu para misionaris?) Saya mengatakan kepadanya dalam surat terakhir bahwa saya akan berceramah mengenai kasih saya bagi tulisan suci. Inilah tanggapannya:

“Saya senang Ibu berbicara tentang pembelajaran tulisan suci! Saya merasa bahwa salah satu cara yang paling banyak saya ubah adalah cara saya mempelajari tulisan suci. Saat ini saya senang mempelajari tulisan suci. Saya senang sekali setiap kali berkesempatan untuk mempelajarinya. Saya hampir tidak dapat menjelaskannya, kecuali seperti yang dijelaskan di dalam Alma 32:28 dimana firman menjadi lezat. Saya menyukai tulisan suci! Saya pikir saya telah menyukai tulisan suci, dan sekarang saya mengasihinya! Rekan saya mengatakan bahwa dia selalu mengetahui ketika kami mengajar dan saat ketika saya akan berpaling pada tulisan suci karena mata saya berbinar-binar dan kemudian saya mulai membuka halaman-halamannya. Saya senang menjawab pertanyaan orang-orang melalui tulisan suci.”

Saya berharap putri saya malam ini tengah mendengarkan pesan ini di Australia dan bahwa dia bahkan akan lebih termotivasi, jika memungkinkan, dalam pembelajaran tulisan sucinya. Juga, saya berharap agar firman itu menjadi lezat bagi Anda, demikian pula bagi dia dan saya, karena tulisan suci sesungguhnya adalah “lebih indah … daripada emas …: lebih manis daripada madu” (Mazmur 19:10).

Manisnya Tulisan Suci

Ingatkah Anda akan Tevye, pengantar susu yang miskin dengan lima anak perempuannya yang ingin menjadi kaya dalam drama musikal Fiddler on the Roof? Apa yang Anda harapkan seandainya Anda kaya? Barangkali Anda akan mengharapkan beberapa hal yang sama seperti yang diinginkannya. Dia ingin menjadi kaya, memiliki rumah besar, tidak perlu bekerja, dan sebagainya. Namun itu bukanlah keinginan terdalamnya. Impian terbesarnya, jika dia tiba-tiba kaya, mungkin terlihat aneh bagi kita. Ingatlah, dia menyanyi:

“Andai ‘ku kaya, aku ‘kan punya waktu
‘Tuk duduk di rumah ibadat dan berdoa
Dan mungkin punya kursi di sisi timur tembok.
‘Kan kubahas kitab suci dengan para ahli Taurat,
Tujuh jam setiap hari.
Itu akan menjadi yang termanis dari segalanya.”
(Lirik oleh Sheldon Harnick, “If I Were a Rich Man,” Fiddler on the Roof [1965]).

Seandainya Anda kaya, maukah Anda meluangkan waktu Anda mempelajari “kitab-kitab suci,” atau tulisan suci, selama beberapa jam sehari? Seandainya Anda kaya, akankah sukacita termanis yang dapat Anda bayangkan adalah memiliki banyak waktu untuk mempelajari tulisan suci secara intensif setiap hari?

Mempelajari kitab suci dianggap oleh orang-orang Yahudi Ortodoks sebagai berkat manis dan hak istimewa yang besar. Sesungguhnya, dalam beberapa tradisi Yahudi ketika anak memulai pendidikan di Torah, rasa madu diberikan kepada siswa sehingga dia akan menyatukan pembelajaran kitab suci dengan rasa manisnya. Ini dimaksudkan untuk memperkuat apa yang dikatakan dalam Mazmur: “Betapa manisnya janjimu itu bagi langit-langitku, lebih daripada madu bagi mulutku!” (Mazmur 119:103).

Demikian pula, Mazmur 19 membandingkan tulisan suci dengan emas dan madu. Pemazmur bersukaria dalam firman Tuhan, berikut ini:

“Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.

Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya.

Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya.

Lebih indah daripada emas, bahkan daripada banyak emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.

Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar” (Mazmur 19:8–11).

Semua istilah ini—hukum, kesaksian, titah, perintah, takut (atau khidmat), dan penghakiman—adalah padanan kata untuk firman Tuhan, atau tulisan suci. Itu semua “lebih indah … daripada emas, bahkan daripada emas tua: [dan] juga lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.”

Kadang-kadang saya berpikir bahwa kita hendaknya merasa lebih seperti Tevye dan anak perempuan misionaris saya. Apakah tulisan suci menjadi kelezatan bagi kita—sama berharganya seperti emas dan lebih manis daripada madu? Apakah kita bergirang hati dengannya, bersuka dengannya, serta merenungkannya seperti yang Nefi ajarkan? (lihat 2 Nefi 4:15–16). Apakah kita mempersamakannya dengan diri kita sendiri seperti yang Yakub nasihatkan? (lihat 2 Nefi 6:5). Apakah kita menyelidikinya untuk mencari firman Tuhan tertentu bagi kita—yang membawa pertobatan, hikmat, penerangan, wahyu, penghiburan, dan sukacita? Apakah kita mengenalinya sebagai salah satu berkat termanis dan paling mulia yang kita miliki?

Lapar akan Tulisan Suci

Barangkali jika kita lebih lapar akan tulisan suci, maka tulisan suci itu bahkan menjadi lebih manis dan lebih berharga bagi kita. Beberapa bulan yang lalu saya pergi ke Afrika, dimana Orang-orang Suci sering kelaparan karena kekurangan makanan namun bahkan lebih lapar untuk mengenyangkan diri dengan firman Tuhan. Di tiap-tiap negara dari empat negara yang saya kunjungi, saya merasakan semangat yang kuat dan iman yang lebih besar dari orang-orang tersebut. Mereka memiliki sedikit sekali hal duniawi, namun mereka kaya dalam hal rohani. Mereka memiliki kabar kesukaan Injil—kebenaran-kebenaran yang jelas dan berharga dari tulisan suci. Tulisan suci mereka yang lusuh menyertai mereka di setiap pertemuan. Mereka mengajar dari tulisan suci, membaca darinya, mendalaminya, serta mengasihinya.

Dalam sebuah pertemuan sakramen seorang pembicara muda menuju ke mimbar tidak membawa apa-apa kecuali tulisan suci. Dia mengajar tentang pengurbanan, memulai dengan tulisan suci dari Perjanjian Lama tentang pengurbanan darah. Lalu dia beralih ke 3 Nefi dalam Kitab Mormon dan memberitahukan bahwa hal-hal kuno telah ditiadakan dengan hadirnya Juruselamat, yang sekarang mensyaratkan pengurbanan hati yang patah dan jiwa yang penuh sesal. Dia tidak menggunakan catatan, hanya pengetahuannya tentang ajaran. Itulah teladan dari cara yang hendaknya kita ikuti dalam mengajar dari tulisan suci.

Saya memikirkan kembali Mazmur 19 dalam kaitannya dengan Orang-orang Suci. Hukum Tuhan telah menjadi alat pertobatan mereka. Kesaksian tentang Tuhan menjadikan orang-orang yang sederhana dan cerdas ini bijaksana. Mereka memiliki terang di mata mereka dan sukacita dalam hati mereka karena memiliki hukum, kesaksian, titah, serta perintah-perintah Tuhan. Di sebuah tempat yang saya kunjungi, orang-orang harus berjalan selama kurang lebih empat jam untuk menghadiri sebuah pertemuan. Mereka memiliki mata pencaharian sebagai petani yang telah mengalami kekeringan selama bertahun-tahun. Namun mereka masih mengenyangkan diri dengan firman Tuhan. Ini “lebih indah … daripada emas …: [dan] lebih manis … daripada madu.”

Di negara lainnya di Afrika, saya mendapati lebih banyak orang yang kelaparan untuk diajar firman Tuhan. Pada hari kami tiba sarana transportasi tidak berfungsi karena kelangkaan bahan bakar. Presiden wilayah yakin sekali bahwa 700 anggota yang telah merencanakan hadir pada api unggun kami tidak dapat datang ke sana. Kami meyakinkannya bahwa kami akan mengajar sebanyak atau sesedikit yang dapat datang. Ketika kami berjalan menuju ke ruangan yang telah ditetapkan 20 menit sebelum memulai pertemuan dan kami melihat lebih dari 300 orang suci khusyuk berkumpul, dengan tenang mendengarkan nyanyian-nyanyian rohani pada kaset, saya diliputi Roh. Selama berlangsungnya pertemuan, entah bagaimana, melalui mukjizat, 300 lagi orang tiba. Mereka lapar akan firman Tuhan. Mereka semua membawa tulisan suci dan mengikuti dengan seksama sewaktu kami mengajar mereka dari kitab-kitab standar. Karena teladan mereka, saya melihat dengan mata baru saya adanya kebutuhan bagi kemajuan. Barangkali banyak di antara kita terlalu menaruh hati kita pada kekayaan duniawi. Saya mempertanyakan apakah kita tumbuh begitu saja atau puas dalam mempelajari firman dan menjalankan ajaran.

Nabi Perjanjian Lama, Amos, berbicara mengenai suatu kelaparan untuk mendengarkan firman—atau, dengan kata lain, kelaparan rohani. “Sesungguhnya, waktu akan datang, demikianlah firman Allah, “Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman Tuhan” (Amos 8:11). Di Afrika, saya bertemu Orang-orang Suci yang tidak hanya lapar akan roti dan air, namun lapar untuk mendengar firman Tuhan. Karena mereka tahu kelaparan rohani, mereka telah belajar, seperti yang Nefi ajarkan, cara untuk “bergirang hati ... akan firman Kristus; karena lihatlah, firman Kristus akan menceritakan kepadamu segala hal yang harus kamu lakukan” (2 Nefi 32:3).

Bayangkan kelaparan rohani yang mungkin kita rasakan jika kita tidak memiliki tulisan suci untuk mengenyangkan diri kita. Selama berabad-abad banyak orang telah hidup tanpa memiliki catatan tentang Taurat. Misalnya, pikirkan keluarga Lehi ketika pertama kali mereka pergi ke padang belantara, atau bangsa Mulek, yang “tidak membawa catatan bersama mereka” (Omni 1:7), pada masa-masa dalam Perjanjian Lama ketika orang-orang tidak memiliki Kitab Taurat atau telah melupakannya, seperti ketika Ezra dan Nehemia harus mengajar kembali orang-orang Yahudi yang kembali dari perbudakan di Babel dalam Kitab Taurat (lihat Nehemia 8:1–3).

Belajarlah di Masa Muda Anda untuk Mengasihi Tulisan Suci

Teladan favorit saya dari Perjanjian Lama adalah Yosia, Raja belia, yang naik takhta di usia delapan tahun. Kisahnya menggambarkan pengaruh dari seorang muda yang mendapati tulisan suci menjadi lebih berharga daripada emas dan lebih manis daripada madu. Para raja sebelum Yosia dan sesudah dia semuanya jahat. Mereka tidak memiliki Taurat maupun memilih untuk membacanya atau mengindahkannya. Namun selama pemerintahan Yosua, Hilkia sang imam besar menemukan Kitab Taurat yang hilang ada di dalam rumah Tuhan (lihat 2 Raja-Raja 22:8). Kitab itu dibacakan kepada Yosia. Kemudian dia mengumpulkan semua rakyatnya ke dalam bait suci serta membacakan firman itu kepada mereka, dan mereka bersama-sama berjanji untuk mematuhi perintah-perintah Allah.

“Dengan didengar mereka ia membacakan segala perkataan dari kitab perjanjian yang ditemukan di rumah Tuhan itu.

Sesudah itu berdirilah raja [dan rakyatnya] dekat tiang dan diadakannyalah perjanjian di hadapan Tuhan untuk hidup dengan mengikuti Tuhan, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu. Dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian itu” (2 Raja-Raja 23:2–3).

Sungguh kisah yang mengilhami. Saya sering bertanya-tanya mengapa Yosia adalah roh pemberani yang menangapi ajaran-ajaran di dalam Kitab Taurat. Mengapa tanggapannya berbeda dengan raja-raja sebelum dan sesudah dia? Adakah penerapan bagi diri Anda di usia muda Anda mengenai menghargai tulisan suci dengan cara membacanya, mengindahkannya, berjanji untuk menepati perintah-perintah di dalamnya, dan kemudian membela perjanjian?

Mungkin tulisan suci memengaruhi jiwa Yosia atau membangkitkan kenangan tentang ajaran prafana. Penatua Neal A. Maxwell mengatakan, dalam sebuah simposium CES di Universitas Brigham Young tahun 1991: “Barangkali kuasa tulisan suci yang hebat dan luar biasa terkait dengan kenangan singkat kita dari dunia prafana kita atau setidaknya menimbulkan kecenderungan kita yang terpelihara sejak lama di sana” (“Teaching by the Spirit—‘The Language of Inspiration,’” dalam Old Testament Symposium Speeches, 1991 [1991], 1).

Barangkali itulah sebabnya sedemikian sering kita melihat dalam tulisan suci perintah untuk “ingatlah, ingatlah” (Mosia 2:41; Alma 37:13; dan Helaman 5:9, 12; 14:30). Kita tidak hanya mengingat mukjizat-mukjizat dan belas kasihan dalam kehidupan ini, namun juga ajaran-ajaran lembut dari kehidupan prafana kita. Penatua Maxwell mengajarkan bahwa kita dapat belajar banyak dari pembelajaran dan perenungan kita, sehingga membangkitkan gambaran sekilas dalam pelajaran-pelajaran yang dipelajari sebelumnya dari Bapa Surgawi.

Dalam sebuah kunjungan yang dilakukannya kepada presiden misi dan keluarganya di Rusia, Penatua Maxwell duduk bersama lima anak perempuan dalam keluarga itu untuk bercakap-cakap. Hal pertama yang dia tanyakan kepada mereka adalah tulisan suci apa yang telah mereka renungkan hari itu. Pertanyaan itu mengagetkan anak-anak perempuannya. Namun mereka memikirkannya. Penatua Maxwell beranggapan bahwa tulisan suci sama berharganya seperti emas dan lebih manis daripada madu bagi mereka seperti halnya mereka kepadanya. Jika kita melakukan seperti yang disarankannya dan selalu menyimpan tulisan suci dalam pikiran kita, pembelajaran tulisan suci akan terjadi sewaktu kita mengajar di kelas, memenuhi janji-janji kita, atau membersihkan rumah kita. Pembelajaran tulisan suci akan dimulai lebih awal dalam kehidupan kita dan terus berkelanjutan serta tetap. Kita akan terus-menerus mengenyangkan diri, menghindari kelaparan pribadi dan kelaparan rohani. Firman Allah akan “ditulis … bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh [hati] kita” (2 Korintus 3:3).

Bahkan para cucu Penatua Maxwell yang masih kecil mengenal dia karena penekanannya pada tulisan suci. Banyak dari Anda mungkin ingat bahwa dalam pesan konferensi umum terakhirnya, dia menyatakan tentang suatu saat ketika dia mengunjungi cucu-cucunya pada suatu malam. Cucu lelakinya, Robbie, sudah tidur. Ketika Penatua Maxwell tiba, ibunya mengatakan, “Robbie, Kakek Neal ke sini!” Dia mendengar suara letih anak kecil dari kamar tidur mengatakan, “Apakah saya harus membawa tulisan suci?” (dalam Conference Report, April 2004, hlm. 48; atau Liahona, Mei 2004, 46). Seperti Yosia sang raja belia dan cucu lelaki, Robbie, kita hendaknya belajar sejak dini dalam kehidupan kita untuk mengasihi tulisan suci, bergirang hati dengannya, dan belajar darinya.

Cucu-cucu kecil kami juga belajar untuk mengasihi tulisan suci dan kami senang dengan tanggapan mereka terhadap tulisan suci. Misalnya, Joshua yang berusia tiga tahun, yang menyukai pahlawan-pahlawan dalam kisah apa pun, biasanya menerka akhir dari setiap kisah tulisan suci terkait: “Lalu, siapa yang menyelamatkan hari itu? Yesus menyelamatkan hari itu!” Joshua mempelajari sebuah pelajaran penting: bahwa Yesus sungguh-sungguh Juruselamat kita. Bahkan nama-Nya berarti “selamat.” Sekarang dalam doa-doa malamnya dia mendoakan tokoh-tokoh yang telah dikenalnya hari itu. Dia berdoa agar Petrus tidak tenggelam lagi, agar babi-babi itu jatuh lagi ke dalam danau, dan agar Laman serta Lemuel akan bersikap baik kepada Nefi. Dan dia bahkan berdoa untuk ayah Yesus yaitu Bapa Surgawi. Joshua baru-baru ini menerima Kitab Mormonnya sendiri dari pemimpin Sanggar Penitipan Anak [SPA] di Pratama. Dia tidak mau lagi ibunya membacakan untuknya dari Kitab Mormon. Dia mengatakan kepada ibunya bahwa dia amat menyukai kata-kata aslinya.

Cucu lelaki lainnya, Tanner, yang berusia enam tahun, ikut kursus berenang musim semi ini. Pada awalnya dia agak takut dengan air. Pada hari mereka akhirnya diminta untuk melompat sendiri ke dalam kolam, rupanya keluarganya tidak membaca tulisan suci pada waktu sarapan seperti biasanya. Meskipun dia gugup, Tanner melakukan lompatan ke dalam kolam. Namun ketika dia keluar dari air dia mengomel kepada ibunya, dengan mengatakan, “Jika kita ingat untuk membaca tulisan suci pagi ini, saya tidak akan takut untuk melompat ke kolam ini.” Putri kami merasa dimarahi namun senang bahwa anak lelakinya menghargai Roh dan kekuatan yang tulisan suci datangkan di dalam kehidupannya. Pembelajaran tulisan suci dapat memberi kita kekuatan untuk melompat ke dalam air dimana kita juga kadang-kadang diminta untuk berenang di dalamnya (lihat A&P 127:2).

Ajaran Dapat Mengubah Kehidupan Kita

Rasul Paulus memuji Timotius karena belajar sejak dini dalam hidupnya untuk mengetahui serta mengasihi tulisan suci, dan dalam melakukannya, dia juga menjelaskan berkat-berkat besar tulisan suci dalam kehidupan kita:

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau pada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:15–17).

Betapa besar berkat yang datang dari mempelajari tulisan suci. Hal itu dapat “menuntun kita pada keselamatan.” Tulisan suci meningkatkan iman kita kepada Yesus Kristus dan rencana-Nya. Tulisan suci mengajar kita mengenai kelemahan-kelemahan kita dan mengenai perlunya pertobatan. Tulisan suci dapat mengajarkan kepada kita ajaran.

Presiden Boyd K. Packer telah mengatakan berulang kali: “Ajaran yang benar, jika dipahami, mengubah sikap serta perilaku. Pembelajaran terhadap ajaran-ajaran Injil akan meningkatkan perilaku lebih cepat daripada suatu pembelajaran perilaku akan meningkatkan perilaku” (dalam Conference Report, April 2004, 80; atau Liahona, Mei 2004, 79). Melalui tulisan suci kita dapat mempelajari ajaran yang benar langsung dari sumbernya, yang akan membantu kita menjadi sempurna atau lengkap, sebagaimana yang Paulus katakan. Tidak pernah terlambat untuk mulai dengan serius mempelajari ajaran yang terdapat di dalam tulisan suci. Sesungguhnya, bahkan malam ini akan menjadi saat yang luar biasa untuk memulainya.

Sekaranglah saatnya di dalam kehidupan Anda ketika Anda membuat keputusan-keputusan utama dan penting mengenai segala hal—sekolah, pekerjaan, karier, misi, teman-teman, kencan, pernikahan, anak-anak, keuangan, situasi hidup, kesetiaan dalam pelayanan di Gereja, dan sebagainya. Saya telah memikirkan dan berdoa terus-menerus serta sungguh-sungguh mengenai apa yang dapat saya kemukakan yang akan membantu Anda masing-masing secara pribadi selama tahun-tahun pengambilan keputusan yang penting itu. Anda memerlukan bimbingan pribadi dan wahyu pribadi yang akan membantu Anda mengatasi keadaan unik Anda sendiri. Alma mengajarkan bahwa “pengkhotbahan firman mempunyai … pengaruh yang lebih kuat terhadap jiwa orang daripada pedang atau apa pun … karena itu Alma berpendapat bahwa perlulah mereka mencoba kekuatan firman Allah” (Alma 31:5). Saya tahu dan bersaksi bahwa sewaktu kita “menguji nilai dari firman Allah,” penghiburan, bimbingan, dan wahyu pribadi itu akan datang kepada kita masing-masing.

Bagaimana pembelajaran tulisan suci memiliki pengaruh yang kuat ini terhadap kita? Tulisan suci mengundang Roh. Rohlah yang menghibur serta membimbing kita. Rohlah yang mengajar kita dan menyatakan pikiran serta kehendak Tuhan bagi kita. Presiden Spencer W. Kimball menyatakan:

“Saya mendapati bahwa ketika saya menjadi tidak khidmat dalam hubungan saya dengan Tuhan dan ketika tampaknya tidak ada telinga ilahi yang mendengarkan serta tidak ada suara ilahi yang berbicara, bahwa saya berada jauh, jauh sekali. Jika saya membenamkan diri dalam tulisan suci jarak itu menyempit dan kerohanian datang kembali” (The Teaching of Spencer W. Kimball, diedit oleh Edward L. Kimball [1982], 135).

Tulisan Suci Memberkati Kita dengan Penghiburan

Dalam sebuah film yang mengisahkan tentang C. S. Lewis, karakternya membuat pernyataan mengenai berdoa, yang menurut saya sama bermanfaatnya dengan pembacaan tulisan suci. Dia mengatakan, “Saya berdoa karena saya merasa tidak mampu, saya berdoa karena saya putus harapan. Saya perlu berdoa pada saat terjaga dan tidur. Hal itu tidak mengubah Allah; itu mengubah diri saya” (kalimat-kalimat dari naskah Panggung dan naskah Film oleh William Nicholson, Shadowland, 1993). Saya merasa seperti itu mengenai tulisan suci. Saya membukanya karena “kebutuhan muncul dari diri saya setiap waktu.” Saya mengetahui kebutuhan saya yang dalam untuk memiliki firman Allah agar mengenyangkan jiwa saya serta mengajar saya segala hal yang harus saya ketahui. Tulisan suci mengubah diri saya.

Banyak di antara Anda akan mengingat kisah yang mengilhami tentang Betsie dan Corrie ten Boom, perempuan Belanda yang menjadi tahanan perang di Nazi Jerman, serta bagaimana mereka beralih ke Alkitab dalam kebutuhan besar mereka di Ravensbrück, tempat tawanan wanita yang tersohor itu. Corrie menuturkan kepada kita:

“Karena bagi kami, sejak pagi hingga malam, kapan pun kami tidak berkumpul untuk diabsen, Alkitab kami ada di tengah-tengah kami sebagai sumber bantuan dan harapan. Seperti anak-anak terlantar yang berkerumun mengelilingi nyala api, kami berkumpul mengelilingi Alkitab, mendekatkan hati kami pada kehangatan dan cahayanya. Semakin buruk situasi di sekitar kami, semakin cemerlang dan nyata serta semakin indah nyala firman Allah. ‘Siapakah yang akan memisahkan kami dari kasih Kristus? Penindasan, atau kesesakan, atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan, atau bahaya, ataukah pedang? .… Tidak, dalam semua ini kami lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kami.’

Saya memandangi sekeliling kami sewaktu Betsie membaca, dengan melihat pengaruh Alkitab di dalam diri setiap orang” (The Hiding Place [1971], 194–195).

Firman Allah memberi makan dan memelihara para wanita ini. Firman Allah membawa kehangatan dan terang. Firman itu lebih indah daripada emas, lebih manis daripada madu.

Tulisan Suci Memberkati Kita dengan Wahyu

Kadang-kadang firman yang tepat dari tulisan suci dengan kuat menjawab doa-doa kita. Membaca tulisan suci juga membuka pikiran dan hati kita pada gagasan-gagasan yang dibisikkan oleh Roh. Lebih tepat bagi kita untuk menerima bantuan seperti itu jika kita membuka tulisan suci untuk mencari, menginginkan, dan bertanya.

Wahyu datang berulang kali kepada Joseph sewaktu dia membaca tulisan suci dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terilhami. Kita semua tahu bahwa Penglihatan Pertama yang mulia adalah hasil dari pembelajaran tulisan suci pemuda berusia 14 tahun. Dia perlu mengetahui gereja mana yang benar, dan dia beriman pada janji dalam Yakobus bahwa Tuhan akan menjawab mereka yang sungguh-sungguh bertanya kepada-Nya. Tahukah Anda bahwa Bagian 76 juga diterima sewaktu Joseph merenungkan tulisan-tulisan Injil Yohanes mengenai keselamatan manusia? Penglihatan tentang tiga tingkat kemuliaan membuka wawasannya. Sesungguhnya, salah seorang cendekiawan OSZA telah memperhitungkan bahwa:

“Lebih dari 50 persen wahyu dalam Ajaran dan Perjanjian diterima selama periode waktu yang berkaitan dengan revisi yang diilhami terhadap Alkitab .... Dalam kegiatan-kegiatan penerjemahan Joseph Smith kita memiliki sebuah pelajaran yang hidup dalam hal bagaimana menerima wahyu; sewaktu Nabi membenamkan dirinya dalam tulisan suci, masalah-masalah dan keingintahuan serta pertanyaan-pertanyaan muncul, yang sering kali menuntun pada terang dan pengetahuan lebih lanjut bagi Orang-orang Suci Zaman Akhir dalam bentuk wahyu-wahyu kontemporer” (Robert L. Millet, “Joseph Smith Translation of the Bible and the Doctrine and Covenants,” dalam Robert L. Millet and Kent P. Jackson, edisi Studies in Scriptures: Volume One, the Doctrine and Covenants [1984], 1; 139).

Wahyu-wahyu para nabi lainnya mengikuti pola yang sama. Joseph F. Smith—Penglihatan mengenai Penebusan Orang yang Telah Meninggal diwahyukan kepada Presiden Joseph F. Smith sewaktu dia merenungkan tulisan Petrus mengenai dunia roh.

Kita masing-masing berhak menerima wahyu pribadi. Tulisan suci dapat menjadi sumber utama kita untuk wahyu. Seorang dosen di Universitas Brigham Young menceritakan kisah tentang seorang wanita yang dibimbing oleh Roh melalui pembelajaran tulisan sucinya ini. Dosen itu menuturkan:

“Seorang wanita dibimbing untuk belajar bagaimana mendengarkan suara Roh saat membaca tulisan suci. Dia diperintahkan untuk bertulut dalam doa, berterima kasih kepada Bapa Surgawinya bagi tulisan suci, untuk meminta agar Roh menyertainya sewaktu dia membaca, dan kemudian menyatakan kepada Tuhan apa yang dia perlukan dari tulisan suci pada hari itu—satu pertanyaan yang jawabannya dia inginkan, mungkin bimbingan dalam suatu hubungan, mungkin penegasan untuk sebuah keputusan. Kemudian dia akan membuka tulisan sucinya—dan mulai membacanya. Dia tidak pernah membaca lebih jauh—sebelum Roh memberinya jawaban tentang apa yang tengah dicarinya. Melalui sesi-sesi tanya-jawab setiap hari dengan tulisan suci dan Roh ini, kepekaannya terhadap bisikan-bisikan roh meningkat—dan dia mengasihi tulisan suci.”

“Saya telah menceritakan pengalamannya kepada orang lain yang kemudian berusaha melakukan hal yang sama; hasilnya sungguh luar biasa. Semua hal dari masalah keuangan sampai masalah hubungan telah teratasi. Dan dalam prosesnya, kemampuan mereka untuk mendengarkan suara Roh Kudus telah meningkat” (Wendy L. Watson, “Let Your Spirit Take the Lead,” dalam The Power of His Redemption: Talks from 2003 BYU Women Conference [2004], 326).

Saya juga jadi mengasihi dan bergantung pada tulisan suci dalam kehidupan saya. Tulisan suci lebih berharga daripada emas bagi saya. Jawaban-jawabannya tidak selalu datang dengan mudah bagi saya, namun jawaban itu datang. Kadang-kadang jawaban itu bahkan datang dalam bentuk kedamaian dan penghiburan sewaktu saya menunggu untuk memahami kehendak Tuhan dan waktu-Nya. Ketika saya adalah seorang ibu muda, Presiden Spencer W. Kimball mengimbau para wanita Gereja untuk “memiliki pengetahuan tentang tulisan suci” (“The Role of Righteous Women,” Ensign, November 1979, 102). Jika waktu mengizinkan saya dapat memberitahu Anda sekian banyak cara bahwa mengikuti imbauan itu membantu saya dalam tugas saya sebagai ibu. Jika Anda melihat tulisan suci saya, Anda dapat melihat nama anak-anak saya tertulis di samping pasal-pasal yang saya ketahui melalui kekuatan wahyu perlu saya bagikan kepada mereka.

Demikian pula, firman Tuhan telah memberkati saya dalam pelayanan Gereja saya. Ketika pertama kali saya dipanggil menjadi presiden Remaja Putri, saya membuka tulisan suci saya. Saya mencari penghiburan dan bimbingan mengenai perasaan tidak mampu saya dan perasaan terbebani dengan tanggung jawab yang lebih besar dari kemampuan saya yang terbatas. Kisah-kisah tulisan suci tentang para nabi dan pemimpin yang merasa tidak mampu dalam pemanggilan mereka membawa kedamaian dan mengajari saya bahwa Tuhan meningkatkan mereka yang Dia panggil.

Salah seorang Nabi itu, Henokh, mengatakan: “Apakah sebabnya maka aku berkenan pada pandangan-Mu sekalipun aku masih bocah, dan semua orang membenciku; sebab aku tidak pandai bicara; karena apakah aku menjadi hamba-Mu?

Maka berfirmanlah Tuhan kepada Henokh: Pergilah serta lakukan sebagaimana telah Aku perintahkan engkau …. Bukalah mulutmu, maka mulutmu akan dipenuhi dan Aku akan membuatmu berbicara” (Musa 6:31–32). Musa juga merasa tidak mampu, dan Tuhan berjanji, “Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan” (Keluaran 4:12). Dan Yeremia menerima berkat: “Janganlah takut …: sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau …. [Dan] Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu” (Yeremia 1:8–19).

Sewaktu saya belajar, saya terutama sekali terhibur dengan janji-janji yang diberikan kepada Juruselamat. Saya merasa bahwa Bapa Surgawi menghendaki saya agar mempersamakan berkat-berkat tersebut dengan diri saya terhadap kebutuhan saya. “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu” (Yesaya 50:4). Tulisan suci ini memberi rujukan kepada saya pada tulisan suci lainnya yang saya gunakan sebagai tema saya. “Sebab Aku Sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu” (Lukas 21:15). Setiap hari selama tiga tahun terakhir saya telah berdoa memohon kata-kata hikmat. Keinginan terbesar saya adalah (terutama ketika saya merasa sangat tidak mampu) untuk mengetahui apa yang Tuhan kehendaki untuk saya ajarkan—untuk memiliki hikmat—dan kemudian dapat memiliki kata-kata untuk menyampaikan pesan itu—kata-kata hikmat. Melalui tulisan suci saya menemukan wahyu pribadi yang telah membimbing saya dan menghibur saya dalam pemanggilan ini. Firman Tuhan “lebih indah … daripada emas …: [dan] lebih manis … daripada madu” dalam kehidupan saya (Mazmur 19:10).

Tulisan Suci Memberkati Kita dengan Kesaksian

Salah satu dari berkat besar yang kita miliki sebagai para anggota Gereja adalah tulisan suci modern yang memberi kesaksian tambahan bahwa Yesus adalah Kristus dan yang memulihkan kegenapan ajaran-ajaran Injil-Nya. Setiap nabi zaman akhir telah mengimbau kita untuk membaca Kitab Mormon dan untuk hidup melalui ajaran-ajarannya dengan janji bahwa berkat-berkat besar akan datang dalam kehidupan kita.

Pada bulan Agustus Presiden Gordon B. Hinckley meminta setiap anggota Gereja untuk membaca atau membaca ulang Kitab Mormon sampai akhir tahun perayaan ini. Menurut Anda mengapa nabi kita meminta kita melakukan hal ini? Mengapa? Kita masing-masing hendaknya bertanya kepada diri sendiri: Apa yang perlu saya pelajari? Bagaimana saya perlu memperbaiki diri? Di mana saya memerlukan bantuan? Kita akan menemukan alasan-alasan dan kebutuhan-kebutuhan pribadi untuk pembacaan Kitab Mormon ini. Kemudian Presiden Hinckley menjanjikan kepada kita “akan datang ke dalam kehidupan dan rumah tangga Anda Roh Tuhan yang berlimpah, suatu keputusan yang diperkuat untuk berjalan dalam kepatuhan terhadap perintah-perintah-Nya, serta suatu kesaksian yang lebih kuat mengenai kenyataan yang hidup akan Putra Allah” (“A Testimony Vibrant and True,” Ensign, Agustus 2005, 6).

Roh Tuhan menyertai Kitab Mormon. Teman-teman saya, Wilford dan Kathleen Andersen, yang melayani sebagai presiden misi di Guadalajara, Meksiko, benar-benar melihat roh Kitab Mormon dalam pekerjaan itu. Sister Andersen merasa terkesan selama tahun terakhir misi mereka untuk mendidik tiga putranya di rumah selain di sekolah umum. Tetapi, dia membutuhkan bantuan dalam mengajar mereka bahasa Spanyol. Dia berdoa untuk menemukan guru yang tepat. Dia dituntun pada Irma Encinas yang telah menjadi guru selama 20 tahun dan baru saja pindah ke kota baru ini. Irma Encinas datang dua kali seminggu untuk bekerja bersama anak-anak lelaki itu.

Tiga minggu dalam tahun ajaran sekolah, Sister Andersen menyadari bahwa dia telah menggaji seseorang yang mungkin tertarik dalam mempelajari lebih banyak mengenai Gereja kita. Jadi dia memberitahu Irma mengenai Joseph Smith dan Kitab Mormon. Sister Andersen lalu memutuskan untuk memasukkan kurikulum bahasa Spanyol bagi anak-anak yaitu Kitab Mormon. Masing-masing anak lelaki membaca dengan keras dalam bahasa Spanyol dari tulisan suci itu pada setiap kunjungan. Kemudian si guru diperintahkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka mengenai bacaan itu dan anak-anak lelaki tersebut harus menjawabnya dalam bahasa Spanyol. Sementara anak-anak lelaki itu belajar bahasa Spanyol, Irma Encinas belajar mengenai Kitab Mormon.

Setelah Natal, Irma Encinas datang kepada Sister Andersen dan mulai menangis. Dia perlu menceritakan kepada Sister Andersen mengenai apa yang terjadi. Dia mengatakan bahwa setiap kali anak-anak lelaki itu membaca Kitab Mormon, dia melihat terang pada wajah mereka. Ketika mereka menutup kitab itu, terang itu tiba-tiba menghilang. Dia mengakui bahwa saudara perempuannya yang tinggal bersamanya telah menerima Kitab Mormon 11 tahun yang lalu, namun belum membacanya. Pengalaman luar biasa ini menyebabkan keduanya mencari dalam rak buku mereka kitab yang berdebu itu. Mereka ingin menemukan bagi diri mereka sendiri apa cahaya yang berasal dari kitab ini. Saya yakin Anda dapat mem hami kelanjutan kisah itu. Mereka mulai membaca Kitab Mormon dan ingin misionaris mengajar mereka. Dua minggu setelah pembahasan misionaris pertama mereka, mereka dibaptiskan.

Kesaksian Saya

Presiden Hinckley telah menjanjikan kepada kita masing-masing terang yang sama sewaktu kita membaca Kitab Mormon. Saya telah membaca ulang Kitab Mormon dalam beberapa minggu yang lalu. Kitab itu telah menyalakan kembali kesaksian yang membara di dalam hati saya bahwa Yesus Kristus adalah Penebus dunia. Hampir setiap ayat bersaksi tentang Dia. Presiden Boyd K. Packer mengatakan, “Di antara lebih dari 6.000 ayat dalam Kitab Mormon, jauh lebih dari separuhnya merujuk langsung kepada-Nya” (dalam Conference Report, April 2005, 9; atau Liahona, Mei 2005, 8–9).

Orang-orang dalam Kitab Mormon menanti-nantikan Dia dengan harapan dalam Penebusan-Nya, dan mereka melihat kembali pada teladan kehidupan dan kematian penebusan-Nya dengan harapan dalam Kurban Tebusan-Nya. Jauh sebelum Kristus dilahirkan, Yakub menulis: “Percayakah engkau akan kitab suci? …. Karena sesungguhnyalah Kitab Suci itu bersaksi tentang Kristus. Lihatlah, kukatakan kepadamu bahwa tidak seorang pun dari para nabi yang telah menulis ataupun bernubuat tanpa mereka membicarakan mengenai Kristus” (Yakub 7:10–11). Dan setelah Kristus datang, Mormon menulis, “Dan hal-hal yang ada di atas lemping-lemping ini menyenangkan aku, karena nubuat-nubuat tentang kedatangan Kristus dan leluhurku mengetahui bahwa sebagian besar daripadanya telah digenapi” (Kata-Kata Mormon 1:4). Sungguh sebuah sudut pandang yang luas dan luar biasa untuk bersaksi. Sewaktu saya membaca saya mengetahui bahwa melalui iman orang-orang kepada Kristus dan Kurban Tebusan-Nya mereka menahan rasa sakit dan penderitaan serta mengatasi dosa dan godaan. Saya tahu bahwa Yesus adalah Kristus yang hidup. Saya merasa menyanyikan pujian kasih penebusan-Nya (lihat Alma 5:26).

Juga dalam pembacaan ulang ini saya mulai menangkap sekilas pentingnya lemping-lemping itu—lemping-lemping emas, 24 lemping-lemping emas, dan catatan bangsa Nefi di atas lemping-lemping besar dan kecil. Saya menyadari lemping-lemping itu lebih berharga daripada emas bagi Lehi dan keturunannya. Alma mengajak kita ke dalam rumahnya—sebagaimana saya ingin melakukannya malam ini—dan membiarkan kita mendengarkan ajaran-ajarannya kepada putranya Helaman. Dia menceritakan kepada putranya mengapa tiap-tiap catatan itu sangat penting. Dia memercayakan catatan itu kepada putranya dengan tanggung jawab besar untuk tidak hanya memelihara lemping-lemping itu, dan terus menulis di atasnya, namun juga mengajarkan kebenaran-kebenarannya. Dia mengatakan, “Karena sebagaimana penunjuk arah ini [Liahona] dengan pasti membawa leluhur kita ke negeri yang dijanjikan dengan cara mengikuti arahnya, maka firman Kristus itu, jika kita mengikuti arahnya, akan membawa kita keluar dari lembah kedukaan ini ke Negeri Perjanjian yang jauh lebih baik” (Alma 37:45).

Saya telah menerima berkat-berkat yang dijanjikan oleh Presiden Hinckley—curahan Roh yang lebih besar, keinginan untuk bertobat dan berjalan dalam kepatuhan yang lebih kuat, serta kesaksian tentang kenyataan Putra Allah yang hidup. Saya berdoa semoga Anda akan menggunakan waktu ini dalam masa remaja Anda untuk mengenyangkan diri dengan tulisan suci, untuk menentukan pola untuk diikuti sepanjang kehidupan Anda, untuk mengundang wahyu pribadi melalui tulisan suci, dan mempelajari ajaran Yesus Kristus.

“Saya mengasihi Tuhan, di dalam Dia jiwa saya bersukacita” (John Tanner, “I Love the Lord” [Jackman Music Corp,” 2002], 2; lihat juga 2 Nefi 4:15—16). Saya tahu bahwa Bapa Surgawi hidup dan bahwa Dia cukup mengasihi kita sehingga berbicara kepada kita melalui tulisan suci-Nya. Saya bersaksi bersama Nefi, “Jiwaku suka akan ayat-ayat suci ini” (2 Nefi 4:15). Tulisan suci telah memperkuat kesaksian saya, mengajarkan kepada saya kebenaran-kebenaran, membimbing jalan saya, dan menghibur kepedihan saya—sebagaimana yang saya ketahui tulisan suci juga akan melakukan hal itu bagi Anda. “[Saya telah] diperingatkan oleh semuanya itu, … dan berpegang padanya [saya telah mendapat] upah yang besar” (Mazmur 19:11). Tulisan suci lebih indah … daripada emas, bahkan daripada banyak emas tua;:[dan] lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah” (Mazmur 19:10). Dalam nama Yesus Kristus, amin.

 
© 2009 Intellectual Reserve, Inc. All rights reserved.   Rights and use information.  Privacy policy